e. Seni Budaya
Peradaban Islam dalalm bidang seni budaya, sastra mancapai puncak kejayaannya pada masa Daulah Abbasiyah. Kota Baghdad menjadi kota pusat studi ilmu, seni dan sastra. Kemajuan ini disebabkan karena proses asimilasi (pertemuan budaya) antara bangsa Arab dengan bangsa lainnya. Apalagi setelah kegiatan penerjemahan berbagai macam buku dari Yunani, India, Byzantium, dan Persia ke dalam bahasa Arab.Perkembangan peradaban yang dapat diidentifikasi dalam bidang seni budaya dan sastra seperti :
Seni Arsitektur
Seni arsitektur ini sangat digemari oleh para khalifah. Seni arsitektur ini sangat berguna untuk keperluan membangun gedung, masjid, istana, madrasah, dan kantor pemerintahan. khalifah Abbsiyah tidak segan-segan mendatangkan arsitek-arsitek dari Byzantium, Yunani, Persia, dan India untuk mendisain bangunan dan mengajarkan seni arsitektur bangunan kepada orang Abbasiyah.
Bukti dari kemajuan pradaban seni arsitektur pada masa Daulah Abbasiyah masih dapat ditemukan sampai saat ini dari keindahan gedung-gedung istana, masjid, madrasah sebagai peninggalan Daulah Abbasiyah.
Seni Tata Kota
Seni tata kota dan arsitektur pada masa Daulah Abbasiyah bernilai sangat tinggi, banyak bangunan dan kota dibangun dengan teknik tata kota yang berseni tinggi. Diantara kota-kota itu adalah :
Kota Baghdad
Baghdad dibangun tahun 763 M pada masa pemerintahan khalifah Abu Ja’far
Al-Mansyur. Pembangunan kota ini melibatkan 100.000 orang ahli bangunan,
terdiri dari arsitek, tukang batu, tukang kayu, pemahat, pelukis, dan lain-lain
yang didatangkan dari Suriah, Iran, Basrah, Mosul, Kuffah, dan daerah –daerah
yang lainnya. Biaya pembangunan kota ini mencapai 4.833.000 dirham.
Kota Baghdad dibangun berbentuk bundar sehingga
disebut kota bundar (Al-Mudawwarah). Dikelilingi dua lapis tembok besar dan
tinggi. Bagian bawah selebar 50 hasta dan bagian atas 20 hasta, tingginya 90
kaki (27.5 m). Di luar tembok dibangun parit yang dalam, yang berfungsi ganda
sebagai saluran air dan benteng pertahanan.
Di tengah kota dibangun istana khalifah diberi
nama Qashrul Dzahab (istana emas) yang melambangkan kemegahan dan
kejayaan. Di samping istana, dibangun pula Masjid Jami’ Al-Mansyur
Kota Samarra
Lima tahun setelah kota Baghdad mengalami kemajuan Khalifah Al-Mu’tashim
Billah (833-842 M) membangun kota Samarra. Di dalam kota ini terdapat istana
yang indah dan megah, masjid raya, taman kota dengan bunga-bunga yang indah,
dan alun-alun. Untuk memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya,
dibangun pula pusat-pusat perbelanjaan dan pusat-pusat pelayanan publik.
Selain pembangunan di kota-kota tersebut, dua kota suci umat Islam Makkah dan Madinah juga tidak terlepas dari sentuhan seni arsitektur para penguasaa Daulah Abbasiyah. Terlebih Masjid Al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Menurut tradisi, setiap penguasa muslim pada masanya masing-masing turut ambil bagian dalm renovasi dan pembangunan dua Masjid suci kebanggaan umat Islam tersebut.
f. Seni Sastra
Abu Athiyah (760 – 841 M)
Abu Nawas (741 – 794 M)
Abu Tamam (w 847 M)
Al-Buhtury (821 – 900 M)
Al-Muntanabbi (961 – 967 M)
Kota Baghdad terkenal dengan kisah yang melegenda di kalangan umat Islam yaitu cerita tentang 1001 malam (Alfu Lailah Wa Lailah) yang ditulis oleh Mubasyir ibnu Fathik.

Komentar
Posting Komentar